Perjalananku

Sedikit kisah bagaimana aku berproses. Tahun 2009 merupakan tahun yang cukup berat bagiku. Di pertengahan tahun tersebut, perdebatan lumayan sengit terjadi antara Bapak dan Ibu. Bapak yang sedari aku MI sering berucap sembari berharap agar aku bisa “menempati almarinya” di PP. Bahrul Ulum Jombang sedangkan Ibu yang teramat memanjakanku, sangat tidak sudi jika aku harus jauh dari rumah. Hingga pada suatu hari Bapak pun mengalah, mencairkan suasana dengan mengantarkanku keliling sekolah di sekitar Brebes. Dan alhamdulillah, malam itu ku ceritakan pada Ibuku tentang sekolah-sekolah yang ku kunjungi. Ku sampaikan padanya sekolah pilihanku lengkap dengan alasan-alasanku. Ibupun senang dan tenang kala itu. Tapi BOOMMM! Ketika asyik berbincang, ada tamu yang datang. Dia saudaraku yang sudah lama tak bertamu. Sementara Bapak menemuinya, aku masih lanjut berbagi cerita dengan Ibuku. Tapi tiba-tiba Bapak memanggil dengan nada penuh semangat. Tau kenapa? Ya. Saudaraku adalah santri. Aku diminta mendengarkan penjelasan masku tentang pesantrennya. Ketika dia selesai dengan penjelasannya yang lengkap dengan sedikit pemanis di dalamnya, Bapak secara spontan berkata, “Besok pagi sebelum Jum’atan kita survey kesana mas.” Aku hanya diam. Esoknya kami bergegas tuk mengunjungi PP. Al Hikmah 2. Usai kunjungan, perdebatan kembali dimulai hingga akhirnya keputusan berat pun menjadi mufakat, “Umar dipondokkan.” Tau apa yang ku lakukan? Lagi dan lagi, aku hanya bisa diam. Isak tangis yang tak henti olehku, adik dan ibuku mengiringi keberangkatanku. Sempat aku bergumam,”Tega sekali bapakku. Pun dia tidak menangis sama sekali saat aku akan pergi.” Nasi sudah menjadi bubur, perjalanan barukupun dimulai sebagai seorang “Santri”. ~

Bu, Pak, terima kasih atas hal berat yang saat itu diputuskan. Ilmu agamaku memang tak begitu dalam, lantunan ngajiku pun tak begitu indah, tapi insyaallah aku selalu belajar untuk birrulwalidain dan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga kelak aku bisa menjadi celengan baik untuk Ibu & Bapak. Sekali lagi, terima kasih sudah menjadi perantara yang menjadikanku sebagai “SANTRI”.

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *